25 Dec 2009

Puasa Asyura dan Bulan Muharram

Sesungguhnya   bulan  Allah Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah, Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى yang artinya :

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah :36)
     
Adapun maksud dari firman Allah سبحانه وتعلى :Janganlah kamu menganiaya diri kamu  yakni, pada bulan-bulan haram karena kesalahan atau dosa yang dikerjakan waktu itu lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau dosa yang dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Berkata Qatadah رحمه الله : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezholiman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah سبحانه وتعلى senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).
     
Diriwayatkan dari Abu Bakrah , Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

...السَّــنَةُ اثْــنَا عَشَرَ شَـهْرًا مِنْـهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَــاتٌ ذُو الْـقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَـيْنَ جُمَادَى وَشَعْـبَانَ رواه البخاري
“…Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan  keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari)
      
Dinamakan Muharram karena tergolong bulan haram dan sebagai penekanan akan keharamannya.

Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah Pada Bulan Muharram :



Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia telah berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ  رواه مسلم
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).
     
Lafadz "شهر الله" (Bulan Allah), penyandaran “Bulan” kepada “Allah” dimaksudkan sebagai bentuk pengagungan-Nya kepada bulan tersebut. Imam Alqari رحمه الله berkata: Nampaknya maksud dari hadits tersebut adalah berpuasa pada seluruh bulan Muharram”.
     
Akan tetapi telah diriwayatkan, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan saja, jadi hadits ini hanya menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa dengan sebulan penuh.
      
Dan telah diriwayatkan juga bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, hal ini mungkin dikarenakan belum turunnya wahyu kepada beliau yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Muharram kecuali pada akhir hayatnya sebelum beliau sempat berpuasa pada bulan tersebut. (Lihat Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi)

Sejarah ‘Asyura :

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوا : "هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى" قَالَ  فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْـكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ  رواه البخاري
“Setelah Nabi صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bekata: “apakah ini?”, mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”, selanjutnya beliau berkata: “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu (HR. Bukhari).
     
Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah, dari Aisyah رضي الله عنها ia telah berkata:

 أَنَّ قُرَيــْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ( رواه البخاري
“Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga berpuasa pada hari itu…”. (HR. Bukhari)

Imam Qurthubi رحمه الله berkata: “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk me-nyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa Radhiyallahu Anhu :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَ تَـتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  صُومُوهُ أَنْـتُمْ , رواه مسلم
“‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura :

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَـتَحَرَّى صِيَامَ يـَوْمٍ فَضَّــلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيـَـوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّـهْرَ يَعْنِي شَـهْرَ رَمَضَانَ رواه البخاري
“Saya tidak melihat Nabi صلى الله عليه وسلم memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Dari Abu Qadah Radhiyallahu Anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
 صِيَامُ يـَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّــنَةَ الَّتِي قَــبْلَهُ رواه الترمذي
“Puasa hari ‘Asyura, Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Tirmidzi)      

Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.

 
Apakah Hari ‘Asyura Itu? 

Imam Nawawi رحمه الله berkata: ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab), ‘ulama mazhab kami berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama.Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa".
   
Ibnu Qudamah رحمه الله  berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al Musayyab dan Al Hasan, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya ia telah berkata:
 أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ, رواه الترمذي
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)”.(HHR. Tirmidzi).

Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura :

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
 حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا :"يـَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالـنَّصَارَى" فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ) فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ( قَالَ "فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم " رواه مسلم
 
“Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan” dia (Ibnu Abbas) berkata: “akan tetapi beliau  صلى الله عليه وسلم telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).      
Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata : Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan.
     
Maka dari itu puasa ‘Asyura bertingkat-tingkat : (pertama): hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja, (kedua): berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dan (ketiga) dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.

Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a :

Imam Nawawi  رحمه الله berkata: “Sebagian ‘ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.

Dosa Apakah Yang Dihapus Pada Puasa ‘Asyura :

Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 6 tentang puasa hari Arafah).
    
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al Fatawa Al Kubra juz 5).

 
Bid’ah – Bid’ah ‘Asyura

Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada hari ‘Asyura, seperti memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan perasaan gembira, dan lain sebagainya, apakah kebiasaan-kebiasaan ini memiliki dasar di dalam agama atau tidak?
     
Beliau menjawab : ”Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shohih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin termasuk Imam yang empat tidak mengangapnya sebagai sesuatu yang baik, dan tidak ada satu hadits pun baik yang shohih atau yang lemah berbicara mengenai hal itu, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayatkan di dalam hadits maudhu (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja dsb) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”.Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم
     
Kemudian beliau رحمه الله menyebutkan secara ringkas apa yang terjadi pada umat terdahulu berupa fitnah, peristiwa-peristiwa dan kisah tentang pembunuhan Husain Radhiyallahu Anhu serta apa yang dilakukan oleh sebagian firqah setelah kejadian-kejadian itu, kemudian selanjutnya beliau berkata: “Maka firqah tersebut menjadi sesat dan zholim, di antara mereka ada yang kufur, munafik dan ada yang termasuk orang yang disesatkan.
    
Di antara penyimpangannya antara lain mereka mencintai beliau (Husain) dan Ahlul Bait secara berlebihan, menjadikan hari ‘As-yura adalah hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan, padahal berita-berita tersebut kebanyakan dusta sehingga apa yang mereka perbuat hanya menambah dan melahirkan kesedihan, sikap fanatik, menyulut api peperangan dan menyebarnya fitnah diantara kaum muslimin serta merendahkan generasi terdahulu, sehingga keburukan dan bahaya mereka sampai-sampai tidak lagi dapat dihitung dan disebutkan oleh orang yang fasih.
    
Karena itu muncullah beberapa kaum yang menyimpang yang sebagian mereka adalah orang-orang  fanatik terhadap Husein رضي الله عنه dan keluarganya sedangkan lainnya ada-lah orang-orang jahil yang membalas keru-sakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, kejelekan dengan kejelekan, bid’ah dengan bid’ah. Mereka banyak memalsukan riwayat-riwayat sebagai dalil disyariatkannya bergembira pada hari ‘Asyura seperti mema-kai celak dan mencat kuku, pemberian nafkah kepada keluarganya, memasak makanan yang istimewa dan lainnya sebagaimana yang dilakukan pada hari raya. Mereka menjadikan Hari ‘Asyura sebagai suatu musim seperti layaknya hari raya dan waktu bersedih dan bergembira. Kedua kelompok tersebut menyimpang dan keluar dari sunnah.(Lihat Al Fatawa Al Kubra).
     
Ibnu Al Hajjaj رحمه الله  menyebutkan bahwa diantara bid’ah ‘Asyura adalah menyengaja untuk mengeluarkan zakat, sama saja jika mengeluarkannya di awal atau di akhir waktu, mengkhususkam memotong ayam ketika itu dan memakai daun pacar bagi wanita. (Lihat Al Madkhal juz 1 tentang hari ‘Asyura).
-Abu Muhammad-

21 Dec 2009

AMALAN PADA 1 DAN 10 MUHARRAM

Muharram ( محرّم ) adalah bulan pertama dalam Sistem Takwim Hijrah (Hijriah). Pada asasnya, Muharram membawa maksud 'diharamkan' atau 'dipantang', iaitu Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Namun demikian larangan ini ditamatkan setelah pembukaan Mekah (Al Baqarah: 91).


Sejak pemansuhan itu, umat Islam boleh melaksanakan tugas dan ibadat harian tanpa terikat lagi dengan larangan berkenaan. Rasulullah s.a.w telah menamakan bulan Muharram sebagai bulan Allah (shahrullahi).


Sandaran yang dilakukan oleh Baginda s.a.w kepada Allah s.w.t lantaran kemuliaan dan kelebihan bulan ini kerana sesungguhnya Allah s.w.t tidak merujukkan kepadaNya melainkan oleh golongan khowas (terkhas) di kalangan makhluk - makhlukNya.



Daripada Al-Hassan Al-Basri rahimahumullah;
“Sesungguhnya Allah s.w.t telah membuka lembaran tahun baru di dalam takwim Islam dengan bulan Muharram. Tidaklah kedapatan bulan yang lebih mulia dalam takwim Islam di sisi Allah s.w.t itu selepas bulan Ramadhan melainkan bulan Muharram. Ianya dinamakan bulan Allah yang khas disebabkan besarnya kehormatannya.”


Khalifah Umar Al-Khattab menetapkan adalah hari pertama bagi setiap tahun baru Islam (Kalendar Hijriah).


Kelebihan Hari Assyuuraa' & Amalan Pada 30 Zulhijjah & 1 Muharram.


Abul-Laits Asssamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a berkata:Nabi SAW. bersabda yang bermaksud;


Barangsiapa yang berpuasa pada hari Assyuuraa' yakni 10 Muharram, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 10,000 malaikat; dan barangsiapa yang puasa pada hari Assyuuraa', maka akan diberikan pahala 10,000 orang Haji dan Umrah, dan 10,000 orang mati syahid; dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Assyuuraa', maka Allah akan menaikkan dengan rambut satu darjat. Dan barangsiapa yang memberi buka puasa orang mukmin yang berpuasa pada hari Assyuuraa', maka seolah-olah memberi buka puasa semua umat Muhammad SAW. dan mengenyangkan perut mereka.


Sahabat bertanya; Ya, Rasulullah, Allah telah melebihkan hari Assyuuraa' dari lain-lain hari.Jawab Rasulullah: Benar!.


• Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari Assyuuraa',
• dan menjadikan Adam juga Hawa pada hari Assyuuraa';
• dan menjadikan Syurga serta memasukkan Adam di syurga pada hari Asyura';
• dan Allah menyelamatkan dari api neraka pada hari Assyuuraa';
• dan menenggelamkan Fir'aun pada hari Assyuuraa';
• dan menyembuhkan bala Nabi Ayyub pada hari Assyuuraa'
• dan Allah memberi taubat kepada Adam pada hari Assyuuraa';
• dan diampunkan dosa Nabi Daud pada hari Assyuuraa';
• dan juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Assyuuraa';
• dan akan terjadi Qiyamat pada hari Assyuuraa'





Peristiwa 10 Muharram


10 Muharram - Dinamakan juga Hari Asyura. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilah dan kebenaran. Bertanya para sahabat :


"Wahai Rasulullah ! Apakah kelebihan 10 Muharram berbanding dengan hari-hari yang lain ?" Sabdanya :


1. ALLAH menciptakan alam, langit, bintang dan sebagainya
2. ALLAH menciptakan gunung-ganang pada 10 Muharram
3. Diciptakan lautan pada 10 Muharram
4. Diciptakan Qalam (pena untuk menulis amal manusia) pada 10 Muharram
5. Diciptakan Arasy, Luh Mahfuz pada 10 Muharram
6. Diciptakan Nabi Adam a.s. pada 10 Muharram
7. Dimasukkan Nabi Adam a.s. ke dalam syurga pada 10 Muharram
8. Dilahirkan Nabi Ibrahim a.s. pada 10 Muharram
9. Diselamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari api Namrud pada 10 Muharram
10. Diselamatkan anaknya Nabi Ismail a.s. dari sembelihan pada 10 Muharram
11. Ditenggelamkan Fir'aun pada 10 Muharram
12. Diampunkan kesilapan Nabi Daud a.s. pada 10 Muharram
13. Dilahirkan Nabi Isa a.s. pada 10 Muharram
14. Dikeluarkan Nabi Yunus a.s. daripada perut ikan Nun setelah berada di
dalamnya selama 40 hari 40 malam pada 10 Muharram
15. Disembuhkan penyakit Nabi Ayub a.s. pada 10 Muharram
16. Diangkat Nabi Isa a.s. ke langit pada 10 Muharram
17. Diterima taubat Nabi Adam a.s. pada 10 Muharram
18. Dianugerahkan tahta kerajaan kepada Nabi Sulaiman a.s.
19. Diciptakan Arasy pada 10 Muharram
20. Awal-awal hujan yang turun dari langit pada 10 Muharram
21. Awal-awal rahmat diturunkan pada 10 Muharram
22. Diselamatkan bahtera Nuh a.s. daripada tenggelam sesudah bumi
ditenggelamkan selama enam bulan.pada 10 Muharram


Peristiwa lain


1. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
2. Diangkat Nabi Idris a.s. ke langit pada 10 Muharram
3. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
4. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkan oleh Allah.
5. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
6. Allah menjadikan 'Arasy.
7. Allah menjadikan alam.
8. Allah menjadikan Malaikat Jibril.


Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah berkata; 
Hari Assyuuraa' ialah hari diterimanya taubatnya Nabi Adam. Dan ia pula hari turunnya Nabi Nuh dari perahunya. Maka ia berpuasa syukur; dan ia pula hari tenggelamnya Fir'aun dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Maka mereka berpuasa; kerana itu jika dapat; engkau berpuasalah pada hari Assyuuraa'.


Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Maisarah berkata;
Bahawa siapa yang melapangkan pada keluarganya pada hari Assyuuraa', maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun itu.


Sufyan berkata; Telah kami cuba, maka rasakan kebenarannya.


Said bin Jubair dari Ibn Abbas r.a. berkata; Ketika Nabi SAW. baru hijrah ke Madinah, mendapatkan kaum Yahudi puasa pada hari Assyuuraa'; maka tanya kepada mereka tentang itu.


Jawab mereka; "Hari itu Allah memenangkan Nabi Musa a.s. dari Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya. Maka kami puasa kerana mengagungkan hari ini".


Maka sabda Nabi SAW.; "Kami lebih layak mengikuti jejak Musa dari kamu". maka Nabi SAW. menyuruh sahabat supaya berpuasa.


Abul Laits berkata; Dinamakan Assyuuraa' kerana ia jatuh pada sepuluh bulan Muharram. Ada lain pendapat yang mengatakan hari Assyuuraa' kerana Allah telah memuliakan pada Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan;


1. Allah telah menerima taubat Nabi Adam a.s.
2. Allah menaikkan darjat Nabi Idris a.s.
3. Hari berlabuhnya perahu Nabi Nuh a.s.
4. Nabi Ibrahim a.s dilahirkan pada hari Assyuuraa' dan diangkatkan sebagai
kholilulLah juga diselamatkan dari api.
5. Allah menerima taubat Nabi Daud a.s.
6. Allah mengangkat Nabi Isa a.s. ke langit
7. Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s.
8. Allah menenggelamkan Fir'aun
9. Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan
10. Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.





Semua ini terjadi pada hari Assyuuraa'. Sebahagian lain berpendapat, dinamakan hari Assyuuraa' kerana ia kesepuluh dari kemulian-kemulian yang diberikan Allah pada umat ini. Bulan Rejab. Allah menjadikannya sebagai kemuliaan nagi umat ini dan melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan umat-umat ini atas lain-lain umat.


1. Bulan Sya'baan Allah melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan Nabi Muhammad SAW. atas semua Nabi.
2. Bulan Ramadhan Allah melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan Allah terhadap semua makhluk.
3. Lailatul qadr yang terlebih baik dari seribu bulan yang lain.
4. Hari Idul Fitri sebagai hari pembalasan(penerimaan upah)
5. Hari-hari sepuluh (1 hingga 10 Zulhijjah) iaitu hari-hari untuk berzikir kepada Allah.
6. Hari Arafah yang dosanya dapat menebuskan dosa dua tahun.
7. Hari Idul Adha iaitu hari berqurban.
8. Hari Jumaat yang termulia dari semua hari.
9. Hari Assyuuraa' yang puasanya dapat menebus satu tahun dosa.


Dan masing-masing waktu yang tersebut itu ada kemuliaan dari Allah diberikan kepada umat ini untuk membersihkan dan menebus dosa-dosa mereka. Di bawah ini ada beberapa terjemahan hadith untuk panduan kita bersama;


Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, "Seutama-utama puasa sesudah puasa bulan Ramadan ialah puasa bulan Muharram dan seutama-utama solat sesudah solat fardu ialah solat malam". (Sahih Muslim)


Abu Musa Al Madani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a.; "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura adalah seperti berpuasa setahun dan siapa yang bersedekah pada hari Asyura adalah bagiku bersedekah setahun." (Riwayat Albazzar)


Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a. katanya Rasulullah s.a.w. ditanya orang tentang puasa hari arafah. Jawab baginda, "Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang". Kemudian Nabi ditanya pula tentang puasa hari asyura. Jawab baginda, "semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu".(Sahih Muslim)


Dari Aisyah r.a. katanya "Biasanya orang Quraisy pada masa jahiliah berpuasa pada hari asyura dan Nabi s.a.w. pun berpuasa. Ketika Baginda tiba di Madinah, Baginda juga berpuasa pada hari asyura dan menyuruh orang lain berpuasa juga".(SahihMuslim)


Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, ketika Nabi s.a.w. tiba di Madinah, Baginda melihat orang yahudi berpuasa pada hari asyura. Nabi pun bertanya, "Hari apa ini ?". Jawab mereka,
"Hari ini ialah hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dari musuh mereka, kerana itu Nabi Musa berpuasa kerananya". Sabda Nabi, "Aku lebih berhak daripada kamu dengan Musa". Oleh itu Nabi berpuasa dan menyuruh orang lain berpuasa pada hari asyura.(Sahih Bukhari)


Rasulullah s.a.w. bersabda; "Berpuasa kamu pada hari ke sembilan dan sepuluh Muharam dan jangan meniru cara orang-orang Yahudi." - Riwayat Al Baihaqi





2. Amalan Pada Akhir Tahun dan 1 Muharram.


Digalakkan pada hari terakhir bulan Zulhijjah dan pada 1 Muhharam dibacakan doa akhir (akhir Zulhijjah) dan awal tahun (awal Muharram).


Selepas sholat subuh pada 1 Muharram digalakkan kita membaca Ayatul Kursi sebanyak 360 kali dengan membaca Isim Bismillahirrahmaa nirrahim pada setiap kali bacaan. Insya Allah barangsiapa yang mengamalkannya, akan diberikan keselamatan dan pemeliharaan dari sebarang musibah dan kesempitan rezeki.


Sesudah selesai hendaklah dibacakan doa berikut sebanyak 3 kali.
Berkata para ulama' salaf, empat belas (14 ) malam yang afdhal dihidupkan:


1. Malam Awal Muharram
2. Malam 10 Muharram
3. Malam Awal Rejab
4. Malam 15 Rejab
5. Malam 27 Rejab
6. Malam 15 Sya'ban
7. Malam Arafah
8. Malam 1 Syawal
9. Malam 10 Zulhijjah
10. Malam-malam ganjil pada 10 hari akhir Ramadhan (21, 23, 25, 27, 29)


Amalan-amalan yang disunatkan pada malam tersebut:
a) Qiamullail b) Membaca Al-Quran c) Zikir


Semoga Allah melimpahkan rezeki dan limpah kurniaNya untuk kita agar dapat mengamalkan dan memuliakan kedatangan awal Muharram di alaf baru ini dengan cara sambutan yang dilaksanakan oleh para Rasul, Anbiya, Siddiqin, Aulia Allah dan orang-orang Sholihin. Semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun yang lepas dalam kontek kita mendekat diri dengan sumber segala kekuatan, keindahan, kasih sayang dan kebahagiaan daripada Allah SWT, Insya –Allah


Wallahu Alam.

19 Dec 2009

Perutusan Pengerusi MTP sempena Maal Hijrah 1431




Bersyukur pada Allah s.w.t  atas pinjaman pelbagai nikmat yang dikurniakanNya.sesungguhnya terlalu banyak nikmat yang telah kita kecapi selama ini.Bersyukur juga kerana kita telah dipanjangkan umur sehingga ke hari ini dengan harapan agar usia ini mampu dipenuhi dengan kekuatan amalan & takwa..
Hari ini kita telah pun sampai kepada hari yang baru, bulan yang baru, tahun yang baru iaitu 1 muharram 1431 H.Kesempatan ini saya mengucapkan Kullu Sanah Entum Toyyibun kepada semua sahabat-sahabat pelajar N.Sembilan di bumi mesir ini.
Dikesempatan ini juga saya meingatkan diri saya serta sahabat-sahabat semua agar kita sama-sama tanamkan azam pasangkan niat untuk menjadi lebih cemerlang dalam semua sudut baik dari sudut ibadah,akhlak mahupun pelajaran..jika kita hayati bacaan doa awal tahun yg kita telah baca ,kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan melawan hawa nafsu,diberi kekuatan dalam memperbanyakkan ibadat padaNYA..semua ini tidak akan tercapai tanpa kita sendiri yg berusaha dengan bersungguh-sungguh dan penuh istiqamah..
Sahabat-sahabat sekalian,
Penghijrahan Nabi s.a.w yg diabadikan pada bulan Muharam merupakan satu sejarah yg agung dalam proses kebangkitan islam dari segi kemajuan,penyebaran dan pemahaman islam..sebagai mahasiswa islam kita harus menghayati penghijrahan nabi ini dan mengaplikasikannya  dalam kehidupan seharian kita..seharusnya kita berhijrah kearah perkara yang lebih baik dan bukan lagi berada di takuk yg lama.muslim yg cemerlang ialah muslim yang hari ini lebih baik dari hari semalm,hari esok lebih baik dari hari ini.Kita tidak seharusnya berlengah lagi untuk berhijrah ke mustawa yg lebih tinggi samada dr sudut ibadat,akhlak mahupun pencapaian akademik.Allah s.w.t menggambarkan orang yang berjaya itu adalah seperti didalam firman-Nya dalam surah al maaidah  ayat 35 seperti mana mafhumnya 
 " Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."

Sahabat sekalian,
Akhir kata,saya mewakili seluruh ahli Majlis Tertinggi Pengurusan mengucapkan selamat tahun baru hijrah kepada semua dan berdoa semoga kita semua berolah segala kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.Semoga kita semua akan berjaya dengan cemerlang dalam imtihan yang bakal menjelma.
sekian,wassalam.





16 Dec 2009

HIJRAH RASULULLAH SAW MELALUI NEGARA MADINAH



       Kita sememangnya wajib bersyukur kepada Allah SWT. Yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita. Yang seandainya kita diminta menghitungnya, pastinya kita tak akan mampu melakukannya. Bahkan, kenikmatan yang terbesar yang diberikan kepada kita, iaitu Islam. Dan kewujudan kita sebagai orang yang beragama Islam. Sebab, ramai orang yang diberi nikmat hidup, tetapi tidak semuanya mahu memeluk Islam. Tetapi, kenikmatan yang lebih besar lagi, yang diberikan kepada kita adalah wujudnya dakwah Islam dan orang-orang yang memikulnya, sehinggalah Islam ini menjalar sampai kepada kita. Dua perkara inilah yang tidak semestinya kita lupakan. Iaitu, dakwah Islam dan orang-orang yang memikulnya, sehinggalah Islam ini sampai kepada kita. Oleh itu, sangat munasabah apabila Hijrah baginda Rasulullah saw. diperingati sebagai suatu peristiwa sejarah yang paling penting dalam kehidupan dakwah Rasulullah saw. Yang di sini, kita peringati setiap tahunnya dengan nama "Maal Hijrah". Mengapa peristiwa Hijrah baginda Rasulullah saw. ini merupakan peristiwa yang sangat penting? Admin ingin mengajak para pembaca untuk menghayati erti sebenar Hijrah Rasulullah.


        Pertama, dakwah Rasulullah saw. apabila masih berada di Makkah, telah melalui masa-masa yang sangat sulit terutama setelah Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan Islam secara terbuka kepada masyarakat Makkah dan menunjukkan bahawa baginda tidak lagi bersendirian, melainkan ada jamaah yang menyertainya, setelah Allah menurunkan surat Al-Hijr: 94:


"Maka sampaikanlah secara terbuka apa yang diperintahkan kepada kamu, dan tentanglah orang-orang musyrik itu."


Setelah ayat ini turun, tepatnya setelah Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthallib memeluk Islam, maka Rasulullah memulakan dakwah secara terbuka. Baginda, kemudian melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, yang diikuti oleh para sahabat. Sejak itu, para sahabat dan pengikut baginda, termasuklah baginda sendiri, setiap hari menerima penyiksaan daripada penguasa Makkah, dan orang-orang kafir Quraisy.


Pernah baginda sedang solat berhampiran Ka’bah, leher baginda diikat oleh Uqbah bin Abi Mu’ait, sehingga baginda tidak dapat bernafas, sampai akhirnya baginda ditolong oleh Abu Bakar. Pada masa yang lain, apabila baginda sedang solat, tengkuk leher baginda dipukul oleh Uqbah bin Mu’ait, sehingga baginda pengsan, dan akhirnya ditolong oleh Fatimah. Puteri baginda itu menangis, sedih, melihat nasib ayahanda tercintanya dianiaya oleh orang-orang kafir. Bukan baginda sahaja yang mengalami nasib buruk seperti itu, malahan keluarga Yasir telah disiksa, sehingga Sumayyah meninggal dunia sebagai syahidah pertama.


Setelah penganiayaan secara fizikal tidak mampu menggoyahkan keteguhan para pemikul dakwah ini, maka orang-orang kafir itu telah merancang untuk mengasingkan baginda saw. dan para pengikutnya. Maka, terjadilah rancangan jahat itu selama kurang lebih tiga tahun. Baginda dan para sahabat hidup di sebuah lembah dalam keadaan kekurangan makanan, pakaian, pekerjaan, rumah dan diusir dari Makkah. Dan setelah itulah, baginda meminta para sahabat untuk meninggalkan Makkah menuju ke Habbasyah (Ethopia-Afrika) untuk mencari perlindungan kepada Raja Najasyi, dengan maksud untuk mempertahankan agama mereka dari serangan secara berterusan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.


Maka, orang-orang kafir juga tidak mahu tinggal diam, sehinggalah mereka menyampaikan maklumat-maklumat yang mengelirukan di luar negeri, untuk mengusir kembali kaum muslimin yang berhijrah ke sana. Orang-orang kafir tersebut berusaha untuk mengadu domba Raja Najasyi dengan kaum muslimin, yang akhirnya tidak berjaya.



Sedangkan baginda Rasulullah saw. dan beberapa sahabat masih duduk di Makkah. Natijahnya menjadikan tindakan orang-orang kafir semakin biadab kepada baginda saw. Sehingga baginda berfikir untuk mencari perlindungan, kerana dakwah Islam tidak mungkin lagi disebarkan kepada orang-orang Makkah. Baginda pada masa itu cuba berhijrah ke Taif, untuk mencari perlindungan kepada Bani Thaqif, yang akhirnya malah baginda diusir dengan cara tidak sopan. Baginda dilempari dengan batu dan kotoran, sehingga tubuh baginda berlumuran darah dan kotor. Sehinggakan Zaed bin Harisah menangis, melihatkan keadaan baginda yang sangat menyedihkan itu. Baginda, cuba untuk masuk kembali ke Makkah, meskipun baginda tahu bahawa baginda akan dibunuh, apabila berada di sana. Maka, baginda berusaha mencari perlindungan kepada Mut’im bin Adi, salah seorang tokoh pemuda Makkah. Dan beliau sanggup melindungi keselamatan baginda saw. dan dakwah baginda. Sejak itulah, baginda berada dalam perlindungan Mut’im bin Adi.


Sejak itu, baginda sering kali mendatangi kabilah-kabilah yang datang ke Makkah untuk menyampaikan dakwah Islam yang baginda bawa. Meskipun risikonya sudah jelas sekali bagi baginda, sebagaimana sumpah baginda: "Demi Allah, seandainya mereka boleh meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiri ku, aku tetap tidak akan meninggalkan urusan dakwah ini, sehingga ianya dimenangkan oleh Allah, atau aku dibinasakan dalam usaha untuk menuntutnya" . Maka, baginda saw, tetap tidak takut, dan terus-menerus berdakwah meskipun pada masa itu tidak satu pun kabilah yang menerima. Pernah baginda menyampaikan dakwah ini kepada kabilah Amru bin Sa’sa’ah, yang pada awalnya bersedia menerima seruan dakwah rasulullah, namun dengan syarat bahawa kepemimpinan setelah baginda mestilah diserahkan kepada kabilah Amru bin Sa’sa’ah, namun hal ini dijawab dengan tegas oleh baginda:


"Sesungguhnya perkara (kekuasaan kepimpinan) ini merupakan wewenang Allah, yang akan Dia serahkan kepada sesiapa sahaja yang Dia kehendaki."




Setelah jawapan itu disampaikan oleh Rasulullah, baginda langsung diusir dari khemah kabilah Amru bin Sa’sa’ah. Inilah keadaan dakwah dan keteguhan baginda dan para sahabat dalam menyampaikan risalah dakwah Islam.



Setelah semua itu berlaku, Allah memberikan pertolongan dengan mempertemukan baginda saw. dengan orang-orang Aus dan Khazraj yang datang untuk menunaikan haji ke Makkah. Maka, apabila mereka mendengarkan seruan Rasul untuk mengimaninya, mereka langsung menerimanya, dan setelah itulah terjadi Bai’at Aqabah I, yang dilakukan di bukit Aqabah. Dan ini merupakan titik awal perkembangan dakwah Rasulullah saw. yang pertama, sehinggalah dakwah Islam ini sampai ke Yatsrib, (nama Madinah sebelum diubah oleh baginda saw).






 Setelah rombongan Aus dan Khazraj kembali ke Madinah, mereka meminta Nabi saw. untuk mengirimkan orang agar mengajarkan Islam kepada mereka di sana. Ketika itulah, baginda saw. Telah mengirim Mus’ab bin Umair. Salah seorang sahabat Rasulullah, yang sebelumnya merupakan pemuda yang kaya raya, tetapi lebih memilih hidup sederhana bersama Rasulullah. Mus’ab lah yang menyampaikan pelajaran Al-Quran kepada penduduk Madinah, sehingga beliau mendapat gelaran sebagai Muqriul Madinah.


Dan ternyatalah dakwah Islam yang disampaikan oleh Mus’ab dan orang-orang Aus dan Khazraj yang telah memeluk Islam itu berjaya merubah public opinion penduduk Madinah, sehinggalah semua orang memperkatakan tentang Islam dan dikatakan juga tidak ada satu pintu rumahpun yang tidak diketuk oleh Mus’ab bin Umair. Akhirnya, bilangan orang yang menyertai Islam menjadi semakin ramai, sehingga mereka mula melaksanakan solat Jumaah yang pertama kalinya di sana.


Berita ramainya penduduk Madinah yang menyertai Islam ini telah menyenangkan hati Rasulullah saw. dan para sahabat yang masih menyertai baginda di Makkah. Dan untuk membuktikan kesiapan Madinah sebagai pusat tegaknya dan pengembangan Islam, maka baginda meminta Mus’ab untuk mengirimkan mereka ke Makkah. Maka, berangkatlah pada musim haji berikutnya, seramai 75 orang. 73 orang terdiri daripada lelaki, dan 3 orang lainnya adalah perempuan. Mereka kemudian sampai di Makkah dan bertemu langsung dengan Nabi, menyatakan sumpah setia yang dikenal dengan Bai’at Aqabah II. Bai’at ini juga dikenal sebagai sumpah setia untuk hidup dan mati demi Islam dan juga merupakan penyerahan kekuasaan orang-orang Madinah kepada Nabi untuk menjadi Ketua Negara Islam. Dan inilah yang mendorong baginda untuk berhijrah ke Madinah.





Kedua, hijrah Rasulullah saw. ke Madinah bukan untuk melarikan diri, atau menyelamatkan diri dari ancaman orang-orang kafir tetapi adalah untuk menegakkan Islam, sehingga Islam ini menjadi agama dan ideologi yang boleh disebarkan ke seluruh dunia, untuk menyelamatkan dunia daripada kehancuran. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam surat At-Taubah: 33/Al-Fath: 28/As-Shaf: 9.


"Dialah yang mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang haq, agar Dia memenangkan agamanya, ke atas agama-agama yang lainnya."


Maka, tanpa hijrahnya Rasulullah ke Madinah, Islam tidak akan pernah sampai kepada kita di Malaysia. Sebab, tidak pernah wujud negara Islam yang menyebarkan dakwah ke seluruh dunia. Tetapi dengan hijrahnya baginda saw. ke Madinah, maka sejak masa itulah negara Islam berdiri untuk yang pertama kalinya di Madinah, dan sejak itulah Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad ke seluruh dunia. Sehinggalah Islam berkembang dengan cepatnya ke seluruh dunia, yang dimulakan dengan penaklukan wilayah Hejaz (622-632 M.) semasa baginda saw. kemudian secara berterusan, wilayah Syam di taklukkan semasa Umar bin Khattab. Sehinggalah Islam memasuki Eropah, setelah beberapa wilayahnya ditaklukkan pada tahun 696-705 M. pada masa Khilafah Umaiyah. Pada masa yang sama, Islam juga telah sampai di Russia. Dan pada tahun 712, Islam telah sampai di Asia Tenggara.


Tetapi memandangkan pentingnya peristiwa Hijrah Rasulullah saw. ini, maka sememangnya peristiwa ini bukan sekadar menjadi peringatan, melainkan lebih daripada itu. Peristiwa Hijrah tersebut, justeru wajib dijadikan pelajaran, bahawa Islam menjadi agama kita, dan sampai kepada kita bukan merupakan peristiwa kecil, tetapi merupakan peristiwa besar. Kalau bukan kerana pengorbanan Rasul dan para sahabat yang tidak kecil itu, pastilah Islam ini tidak akan sampai ke hari ini. Dan kalau bukan kerana wujudnya orang-orang yang sanggup hidup dan mati demi Islam ini, tentulah Islam ini tidak sampai ke hari ini. Dan kalau bukan kerana wujudnya orang-orang yang rela mengorbankan harta, keluarga dan nyawa mereka, pastinya Islam tidak akan wujud hingga ke hari ini.


Dan oleh itu, kita semua berhutang kepada mereka. Dan kita tidak dapat membayarnya, sebab mereka bukan meminta ganjaran daripada kita. Tetapi, mereka menegakkan Islam dengan seluruh pengorbanan mereka, kerana mereka telah menjual diri mereka kepada Allah, yang jiwa, harta dan semua yang mereka korbankan itu telah dibeli oleh Allah dengan syurgaNya.


"Sesungguhnya Allah telah membeli daripada orang-orang yang beriman itu, diri dan harta mereka, bahawa mereka akan diberi (imbalan) syurga." (Q.s. At-Taubah: 111)


Saat ini , ketika ini Islam telah kehilangan generasi terbaiknya yang sanggup menjual diri, harta dan nyawanya kepada Allah untuk mendapatkan syurga-Nya, dengan menegakkan Islam. Dan inilah yang menyebabkan hilangnya cahaya petunjuk Islam, setelah runtuhya Khilafah Islamiyah, Turki Uthmaniyah, pada 3 Mac 1924. Setelah itu, negeri kaum muslimin berterusan mengalami musibah. Lihatlah bagaimana krisis Palestin, Bosnia, Filipina, Kosovo, Indonesia dan Iraq.





Islam ketika ini memerlukan generasi yang sanggup mengorbankan diri, harta serta nyawa mereka untuk menegakkannya. Kerana sekiranya tanpa itu, Islam mustahil kembali berjaya diperingkat antara bangsa, seperti pada masa baginda dan para sahabat hingga 13 abad kemudian. Maka, semuanya terpulang kepada keimanan dan ketaqwaan tuan-tuan, puan-puan, saudara, saudari dan teman-teman sekelian.


Tetapi yang wajib diyakini, bahawa syurga dan neraka itu adalah abadi. Syurga merupakan puncak kenikmatan yang tidak diberikan secara percuma oleh Allah kepada manusia. Kerana itu, semakin tinggi pengorbanan kita, maka semakin besar kenikmatan kita di akhirat kelak. Dan sebaliknya. Akhir kata semoga kita termasuk di antara orang-orang yang sanggup memberikan pengorbanan yang tertinggi demi Islam, semata untuk mencari redha Allah dan syurgaNya. Wallahu a’lam.

13 Dec 2009

RISALAH AT-TAQWA 11 DISEMBER





Menghormati tetamu termasuk tuntutan iman
            SESUATU yang menarik dan tidak putus-putus diperkatakan mengenai tradisi menyambut  perayaan adalah kunjung-mengunjungi antara sesama saudara, sahabat handai, kaum dan bangsa.Demikian juga amalan mengadakan rumah terbuka yang bukan saja membabitkan sesebuah keluarga, malah kini dianjurkan pelbagai organisasi dan institusi.
                 Dalam kemeriahan dan keghairahan memenuhi undangan menghadiri jamuan dan rumah terbuka, pasti ada adab-adabnya yang tidak wajar diabaikan. Adab meraikan tetamu dan memenuhi undangan dijelaskan terperinci dalam kitab Ihya' `Ulumuddin, karangan Imam Muhammad al-Ghazali Jilid 2 dari muka surat 10 hingga muka surat 13. Adab ini yang dapat memastikan bahawa setiap tingkah laku dan tindakan tuan rumah yang mengadakan 'open house'  serta tetamu yang memenuhi undangan kekal terpelihara dan tidak melanggar batas sempadan.
        Bagi tuan rumah yang mengadakan jamuan, ia sebenarnya memenuhi tuntutan agama agar sentiasa mengalu-alukan kehadiran tetamu.Ini seperti ditegaskan Rasulullah sallallahu alaihi wasalam yang bermaksud: -"Tiada kebaikan bagi sesiapa yang tidak menerima tetamu"-.
 Amalan mengundang tetamu dan menikmati hidangan bersama-sama ini juga adalah amalan para anbia'. Misalnya, diriwayatkan Nabi Ibrahim akan berjalan sejauh sebatu atau dua batu untuk mencari orang yang akan bersama-sama dengannya.Sikap yang  ditunjukkan olehnya ini, menunjukkan betapa pentingnya kita menjemput orang lain menjadi tetamu dan menikmati hidangan bersama-sama.


 Di sini juga letaknya keutamaan atau kepentingan memberi makan khususnya kepada golongan fakir dan miskin. Dalam perkara ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasalam pernah ditanya,yang bermaksud: -Apakah iman itu? Jawab Baginda: `Menghidangkan makanan dan mengucapkan salam.-
Dalam menjemput atau mengundang orang lain sebagai tetamu, kita diingatkan supaya tidak membebankan tetamu dengan sesuatu perkara hingga menyusahkannya.Umpamanya, menetapkan sesuatu peraturan ketika berada di rumah kita hingga membuatkan tetamu berasa tidak selesa. Ataupun, kita memintanya membawa hadiah atau melakukan sesuatu yang jika tidak dilakukan akan menyebabkan marah. Rasulullah  sallallahu alaihi wasalam bersabda yang bermaksud: "Janganlah kamu membebankan tetamu atau kamu memarahinya dan sesungguhnya orang yang memarahi tetamu, dia memarahi Allah dan sesiapa yang memarahi Allah, maka Allah murkainya."
            Ia bukan saja bertentangan dengan tata cara yang ditetapkan oleh Islam, malah menunjukkan yang kita tidak mengetahui untuk menghormati tetamu. Sedangkan, menghormati tetamu amat dituntut oleh Islam. Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda yang bermaksud: -Sesiapa yang menghormati tetamu, maka ia menghormatiku dan sesiapa menghormatiku, maka dia memuliakan Allah dan sesiapa memarahi tetamu, maka dia marah kepadaku dan sesiapa yang marah kepadaku, maka dia memarahi Allah-.

             Seterusnya, dalam mengundang tetamu juga, kita hendaklah mengutamakan golongan yang bertakwa atau lebih tepat lagi, orang yang berakhlak mulia, di samping golongan fakir dan miskin. Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda yang bermaksud: -Pastikan bahawa makanan kamu dimakan orang yang baik-baik-.Dalam hadis lain pula, Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda yang bermaksud : -Seburuk- buruk makanan adalah makanan (di majlis) kenduri yang hanya dijemput golongan kaya dan mengetepikan golongan fakir-. Begitu juga dengan usaha mengundang dan menghidang makanan untuk golongan fakir dan miskin.
               Di samping itu, kita diingatkan supaya tidak mengadakan majlis atau menjemput tetamu ke rumah semata-mata untuk bermegah atau menunjuk-nunjuk. Sifat yang buruk ini hanya mendatangkan kerugian kerana Allah tidak menerima perbuatan mengundang tetamu itu sebagai ibadat dan tidak akan memperoleh keberkatan. Sebaliknya, kita hendaklah membahagiakan dan menggembirakan hati saudara seIslam serta menurut sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasalam.
            Dalam kitab Taurat atau sesetengah kitab lain menyebut: "Berjalanlah kamu sebatu untuk menziarahi pesakit, berjalanlah kamu dua batu untuk mengiringi jenazah, berjalanlah kamu tiga batu untuk memenuhi undangan dan berjalanlah empat batu untuk menziarahi saudara di sisi Allah". Perkara ini menunjukkan kita digalakkan memenuhi undangan dan menziarahi saudara walaupun jaraknya jauh.
            Adab terakhir adalah menghadiri sesuatu majlis bukan dengan niat memuaskan nafsu makan semata-mata kerana ia akan mendorong kita cenderung kepada hal-hal keduniaan. Sebaliknya, kehadiran kita biarlah dengan niat yang baik.
  Mudah-mudahan kita mendapat kebaikan dunia akhirat.



 Berlapar Kerana Menghormati Tetamu
     Seseorang telah datang menemui     Rasulullah sallallahu alaihi wasalam dan telah menceritakan kepada baginda tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu baginda tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri baginda mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda kemudian bertanya kepada para sahabat: "Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?"Seorang dari kaum Ansar telah menyahut: "Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasalam, saya sanggup melakukan seperti kehendak tuan itu."

      Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata: "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah sallallahu alaihi wasalam kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita."

Lalu isterinya menjawab: "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

Orang Ansar itu pun berkata: "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami hendak makan, engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidak akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya."

Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang.

Berikutan dengan peristiwa itu, Allah  subhanahu wataala telah berfirman yang bermaksud: "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasry : 9)


9 Dec 2009

Mengapa Anda Selalu Lupa?

Adakah masalah lupa merungsingkan anda? Itu sudah pasti, bukan? Sekiranya anda dapati anda sering kali lupa apa yang telah dibaca, maka tahniah!! itu tandanya anda manusia normal. Hasil kajian telah menunjukkan 80% dari apa yang kita baca hari ini akan lupa hanya dalam masa 24 jam. Jangan cari alasan. Ramai pelajar menjadikan lupa sebagai alasan untuk tidak belajar atau membuat ulangkaji terlalu awal. "Buat apa baca sekarang esok lupa juga". Inilah kata-kata yang sering diucapkan. Tahukah anda, sebenarnya anda tidak lupa, cuma anda belum melakukan cukup usaha supaya anda tidak lupa.Mudah bunyinya bukan?? Sebenarnya wujud perbezaan antara belajar awal dengan belajar waktu musim peperiksaan. Anda perlu belajar awal untuk menyediakan nota-nota bermutu dan untuk memahami setiap mata pelajaran dengan sebaik-baiknya. Jangan risau kalau masih banyak yang anda belum ingat, yang penting telah banyak tajuk-tajuk yang anda telah faham. Fahami apa yang dibaca. Memahami matapelajaran adalah langkah pertama sebelum anda melakukan usaha untuk menghafalnya. Menghafal bahan yang tidak difahami adalah perbuatan yang sia-sia. Sekiranya anda belajar awal, anda pasti punya banyak masa dan berpeluang untuk bertanya kepada guru dan rakan-rakan agar setiap kekeliruan dapat diatasi sebelum terlambat.. Setelah anda benar-benar faham, sediakan nota ringkas yang bermutu untuk anda gunakan setiap kali datangnya musim peperiksaan. Sediakan juga nota-nota poket dan peta minda bagi memudahkan anda merujuk semula kepada apa yang telah dipelajari tanpa perlu membelek semula buku-buku asal. Hafal kata kunci. Ramai pelajar yang mempunyai tabiat menghafal yang buruk. Mereka cuba mengingati keseluruhan ayat yang mewakili fakta. Contoh fakta: Otak manusia terbahagi kepada dua hemisfera iaitu otak kanan dan otak kiri. Pertama sekali pastikan anda faham apa mesej yang mahu disampaikan kepada anda dalam fakta tersebut. Keduanya barulah hafal fakta itu, tetapi bukan menghafal keseluruhan ayat. Hafal hanya perkataan 'dua hemisfera' yang merupakan kata kunci kepada fakta. Sekiranya anda ingat kata kunci ini pasti sahaja anda mampu menerangkan kepada orang lain apa maksud disebaliknya. Sebab itulah anda perlu faham sebelum anda hafal!! Pecahkan kepada beberapa kumpulan kecil. Sekiranya anda terpaksa menghafal terlalu banyak fakta, jangan hafal kesemuanya serentak. Tidak perlu terburu-buru. Pecah-pecahkan fakta-fakta tersebut kepada beberapa kumpulan kecil dan hafal setiap fakta dalam kumpulan ini. Misalnya, kalau anda ada 15 fakta yang perlu diingat, pecahkan fakta-fakta ini kepada 3 kumpulan kecil. Setiap kumpulan mempunyai hanya 5 fakta. Baik, sekarang mana yang lebih mudah dihafal, kumpulan yang 15 fakta atau kumpulan yang mengandungi 5 fakta? Lihat! mudah-mudahkanlah pekerjaan anda. Sekali lagi jangan terburu-buru. Mempelajari bahan-bahan akademik memerlukan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Sering membuat imbasan. Satu lagi faktor anda lupa ialah terlalu percaya bahawa anda telah menguasai tajuk tersebut hanya dengan melakukan sekali ulangkaji. Awal-awal lagi telah dibuktikan bahawa 80% daripada apa yang telah dipelajari akan lupa dalam masa 24 jam. Sekiranya anda tidak menyemak semula tajuk tersebut dalam masa yang terdekat, maka jangan pelik kalau anda terpaksa mengulang baca keseluruhan tajuk sekali lagi dimusim peperiksaan. Untuk menjadi seorang pelajar yang efektif, anda perlu melihat seimbas apa yang telah anda baca dari semasa ke semasa secara sistematik. Petua dibawah boleh digunakan dan terbukti berkesan: • Imbas 5 minit apa yang dibaca selepas 24 jam. • Imbas 5 minit lagi selepas 1 minggu. • Imbas 5 minit setiap 2 minggu. • Imbas 5 - 10 minit dimusim peperiksaan. Gunakan teknik-teknik ingatan. Untuk memudahkan lagi proses mengingati fakta, anda perlu ada kemahiran tertentu seperti teknik mnemonik, teknik menggambar cara, teknik ceraian dan pelbagai lagi. Pastikan anda kembali ke sini setiap minggu sebab pelbagai topik berkaitan dengan ingatan akan dimasukkan dari semasa ke semasa. Elakkan dari tidur petang. Ini lagi satu penyakit. Tidur selepas waktu Asar akan melembabkan otak anda. Dalam Islam amalan tidur petang sebegini sangat tidak digalakkan. Oleh itu hentikan tabiat buruk anda ini. Kalau anda letih, tidur sahaja sebentar selepas solat zuhur, ini sunnah Rasulullah s.a.w. Badan akan terasa lebih bertenaga untuk belajar diwaktu malamnya nanti. Ajarkannya kepada orang lain. Cari peluang untuk mengajarkan apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Libatkan diri secara aktif dalam perbincangan kumpulan. Hanya dengan mengajarkannya sahaja anda dapat menguji penguasaan anda terhadap satu-satu tajuk. Raikan setiap soalan dan hujah daripada rakan. Galakkan mereka bertanya kepada anda. Hanya dengan cara inilah otak anda mula bekerja lebih keras untuk mencari jawapan. Oleh: Dr. Tengku Asmadi bin Tengku Mohamad, Ph.D

4 Dec 2009

Risalah At-Takwa 4 Disember 2009





SEGANLAH DENGAN DIRIMU, DAN MALULAH PADA ALLAH…!!!


Setiap kali hamba ini menghirup udara segar di muka bumi Allah, semakin bertambah umur semakin itu diri ini seakan tidak sedar sudah banyak perkara yang dilakukan adalah bersalahan dan tidak direstui agama. Mulut dan lisan petah mengungkap lafaz-lafaz tazkirah, peringatan dan muhasabah namun secara tidak sedar jika tidak didinding diri ini dengan hiasan taqwa yang hakiki, apa yang ditegur akan terpalit pada diri ini juga. Dikau meminta meminta agar ahli bilikmu agar bangun awal, tapi dirimu juga kekadang terlajak dari waktunya. Dikau membenci pergaulan bebas lelaki perempuan di Malaysia sana namun dirimu jua seronok menutur bicara manis bila ditelefon oleh manusia berlainan dari jantinamu walaupun masih belum ada ikatan yang sah. Dikau membenci dan mengatakan akhlak masyarakat yang sudah teruk di Malaysia sana tapi di sini dikau begitu seronok menonton filem kemasyarakatan sebegitu yang terdedah sana-sini tanpa memikirkan dosa mata yang melihat itu. Dikau membenci orang membuat maksiat terang-terangan tapi dikau dalam diam, galak melakukan maksiat secara sembunyi seakan merasakan Allah itu tidak melihat kamu. Dikau bencikan orang yang bermain ‘chat’ dengan berlainan jantina sehingga tak hirau waktu solat, tak hirau tidur malam hingga ke subuh, namun dikau lebih ligat dan pantas jemarimu menaip patah-patah perkataan yang lagha dan tidak berfaedah pada teman maya berlainan jantina dengan alasan dia hanyalah seorang kawan. Dikau inginkan daulah Islamiyyah tertegak di bumi Malaysia sana namun daulah Islamiyyah tidak tertegak dalam dirimu bahkan unsur kebaratan jauh menusuk dan mengalir di seluruh liang-liang sarafmu. Dikau bencikan budaya hidonisme( hiburan terlampau ), petikan gitar dari pemuda-pemuda Muslim, namun dikau mewajibkan telingamu agar jangan lekang dari muzik berunsur gitar dan drum.



Dikau sering bercakap dan bertutur dengan dalil dari al-Quran dan as-Sunnah, namun jauh di sudut hatimu perasaan riak, ujub dan sum’ah bila menuturkan nas-nas itu biar orang yang mendengar memikirkan dan menganggap dikau adalah hebat. Dikau sering menasihati temanmu agar menjaga masa, namun dirimu sendiri menghabiskan masa dengan tontonan cerita dan ‘game’ yang tiada kesudahan keseronokannya. Dikau sudah tidak hirau lagi dengan kethiqahan kamu sebagai seorang pelajar yang ber’name-tag’kan pelajar agama. Dikau bencikan penampilan buruk dan cara pemakaian umat masa kini, namun cara pemakaianmu pun tidak menggambarkan yang dikau adalah seorang Azhari.
Dikau bencikan jika ada orang yang mengata kamu dari belakang, namun bibirmu sentiasa basah menuturkan keaiban, kelemahan dan kesalahan orang lain terang-terangan mahupun di belakangnya dengan alasan ingin memberi pengajaran padanya dengan merasakan dikau lebih baik, lebih bagus daripadanya. Dikau hanya insan kerdil dan hina. Akulah ‘dikau’ itu. Aku malu dengan diriku….seakan bercakap tidak serupa bikin. Makin hari diriku berasa terlampau hina dan bersalah. Masa itulah, fikiran dan hatiku sentiasa dibayangi mafhum firman Allah :-“sebesar-besar dosa di sisi Allah ialah kalian bercakap dengan apa yang tidak kalian lakukan…” dan turut dibayangi mafhum sabda Nabi Muhammad e:- “orang yang awal diazab dahulu adalah orang yang ada ilmu(tentang sesuatu hukum dan dia jualah yang melakukan dosa itu) berbanding orang yang jahil” bahkan sanggup menggunakan apa jua nas untuk ditakwilkan bagi menghalalkan perbuatan dosanya itu. Aku jadi tersangat malu dengan diriku sendiri.



Ya Allah janganlah engkau golongkanku daripada golongan “ulamak suk”(ulama jahat)yang menggunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu mereka. Aku masih rasa malu dengan diriku….Ya Allah terimalah taubat kami yang telah kami zalimi diri kami ini dengan dosa, jika engkau tidak ampunkan dan rahmati kami, sudah tentulah kami akan tergolong dari golongan yang rugi. Datangkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta jauhkanlah kami dari azab api neraka dan golongkanlah kami dari golongan yang engkau redhai dan rahmati…amin.